

Bandar Lampung, 16 April 2026 – Hujan deras yang mengguyur wilayah Bandar Lampung pada Selasa malam membawa duka mendalam sekaligus keluh kesah bagi warga di Jalan Pagar Alam, Gang Patrian, Kelurahan Kedaton, Kecamatan Kedaton. Musibah banjir yang terjadi kali ini dinilai bukan semata-mata akibat tingginya curah hujan, melainkan diduga kuat dipicu oleh penyempitan saluran irigasi di bantaran kali setempat.
Warga menggambarkan situasi yang sangat memprihatinkan. Aliran air yang sebelumnya mengalir lancar kini berubah menjadi gelombang deras yang sulit dikendalikan. Penyempitan irigasi di kawasan Gang Patrian menyebabkan debit air meningkat drastis hingga akhirnya meluap dan menerjang permukiman warga. Air yang meluap tidak hanya menggenangi rumah, tetapi juga merusak berbagai fasilitas dan infrastruktur di sekitar lokasi.
Dampak paling parah terlihat dari robohnya pagar pembatas antara aliran kali dan rumah milik almarhum Sapri Hamin serta rumah warga lainnya, Japri. Pagar tersebut tidak mampu menahan tekanan air yang begitu kuat akibat aliran yang tersumbat dan menyempit. Akibat kejadian ini, kerugian material ditaksir mencapai Rp150 juta.
Warga setempat mengaku kondisi ini sangat berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Meskipun hujan deras kerap mengguyur kawasan tersebut, banjir besar seperti ini tidak pernah terjadi. Dahulu, aliran air di kali berjalan normal tanpa hambatan sehingga mampu menampung debit air dengan baik. Namun kini, kondisi berubah drastis seiring munculnya bangunan-bangunan di bantaran kali yang mempersempit jalur aliran air.
“Dulu walau hujan deras berhari-hari, air tetap aman dan mengalir lancar. Sekarang, baru hujan sebentar saja sudah langsung meluap. Kami sangat khawatir,” ujar salah satu warga dengan nada cemas.
Menurut warga, keberadaan bangunan liar di sepanjang bantaran kali menjadi faktor utama terganggunya sistem drainase alami. Penyempitan tersebut tidak hanya memperlambat aliran air, tetapi juga menyebabkan penumpukan volume air yang akhirnya meluap ke permukiman. Kondisi ini dinilai sangat membahayakan, terutama saat intensitas hujan tinggi.
Di tengah situasi sulit ini, warga merasa kurang mendapat perhatian. Mereka mempertanyakan peran dan kehadiran pemerintah dalam mengatasi permasalahan yang sudah berlangsung cukup lama namun belum mendapatkan penanganan serius. Keluh kesah pun diarahkan kepada Wali Kota Eva Dwiana agar segera mengambil langkah konkret.
Warga berharap pemerintah kota dapat segera melakukan penertiban terhadap bangunan-bangunan yang berdiri di bantaran kali. Selain itu, normalisasi saluran irigasi dianggap sebagai langkah mendesak guna mengembalikan fungsi aliran air seperti semula dan mencegah terjadinya banjir di kemudian hari.
“Kami memohon kepada Ibu Wali Kota untuk segera bertindak. Jangan sampai masyarakat terus menjadi korban akibat kondisi ini. Kami butuh solusi nyata, bukan sekadar janji,” ungkap warga lainnya dengan penuh harap.
Selain berharap adanya tindakan dari pemerintah, warga juga menyampaikan permohonan bantuan dana kepada pihak terkait, baik pemerintah maupun para dermawan. Kerugian yang mereka alami tidaklah kecil, sementara sebagian besar warga terdampak merupakan masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban warga untuk memperbaiki rumah dan fasilitas yang rusak akibat banjir.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting akan pentingnya pengelolaan tata ruang yang baik serta pengawasan ketat terhadap pembangunan di wilayah rawan bencana. Tanpa langkah tegas dan penanganan serius, dikhawatirkan kejadian serupa akan terus berulang bahkan dengan dampak yang lebih besar di masa mendatang.
Kini, warga Kedaton hanya bisa berharap adanya perhatian dan aksi nyata dari pemerintah serta pihak-pihak terkait. Mereka tidak ingin terus hidup dalam bayang-bayang ketakutan setiap kali hujan turun, dan berharap lingkungan tempat tinggal mereka kembali aman seperti sediakala.